| ig/twitter/line/wechat/kakao: maytiasss | path\fb: Maytias Tri Pratiwi |

Senin, 10 Desember 2012

Hubungan antara pertumbuhan penduduk dengan lapangan pekerjaan dan kemiskinan


Nama  : Maytias Tri Pratiwi
Kelas   : 1 EB 18

Hubungan antara pertumbuhan penduduk dengan lapangan pekerjaan dan kemiskinan


Pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.
Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah penduduk pada khususnya. Karena di samping berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga akan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah atau negara maupun dunia. (menurut MKDU ISD)
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya. (menurut modul online)
Angka pertumbuhan penduduk adalah tingkat pertambahan penduduk suatu wilayah atau negara dalam suatu jangka waktu tertentu, dinyatakan dalam persentase.
Nilai pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah individu dalam sebuah populasi meningkat.
Ini dapat dituliskan dalam rumus: P = Poekt

Faktor-faktor pertumbuhan penduduk:
Pertambahan penduduk pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor – faktor demografi sebagai berikut :
1. Kematian (Mortalitas)
2. Kelahiran (Natalitas)
3. Migrasi (Mobilitas)
Kelahiran dan kematian dinamakan faktor alami, sedangkan perpindahan penduduk dinamakan faktor non alami. Di dalam pengukuran demografi ketiga faktor tersebut diukur dengan tingkat/rate. Tingkat/rate adalah ukuran frekuensi suatu penyakit atau peristiwa/kejadian tertentu yang terjadi pada suatu populasi selama periode waktu tertentu, dibandingkan dengan jumlah penduduk yang menanggung resiko tersebut.
1. kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidaupan manusia secara permanen. Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian, caranya hamper sama dengan cara menghitung angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh factor pendukung kematian (promotalitas) dan factor penghambat kematian (anti mortalitas).
2. kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa factor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan yang mendukun kelahiran (pro natalitas).
3. migrasi adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpndahan penduduk yang melewati batas suatu Negara ke Negara lain, dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu Negara saja.

Dampak Negatif Pertumbuhan Penduduk Lainnya:
1. Lahan tempat tinggal dan bercocok tanam berkurang
2. semakin banyaknya polusi dan limbah yang berasal dari rumah tangga, pabrik, perusahaan, industri, peternakan, dll
3. Angka pengangguran meningkat
4. Angka kesehatan masyarakat menurun
5. Angka kemiskinan meningkat
6. Pembangunan daerah semakin dituntut banyak
7.Ketersediaan pangan sulit
8.Pemerintah harus membuat kebijakan yang rumit
9. Angka kecukupan gizi memburuk
10. Muncul wanah penyakit baru

Cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk :
1. Penambahan dan penciptaan lapangan kerja dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan hilangnya kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu pula diharapkan akan meningkatkan tingkat pendidikan yang akan merubah pola pikir dalam bidang kependudukan.
2. Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan. Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju pertumbuhan yang tidak terkontrol, maka diharapkan masyarakat umum secara sukarela turut mensukseskan gerakan keluarga berencana.
3. Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi. Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju pengangguran akibat tidak sepadan antara jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
4. Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan. Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak diikuti dengan laju pertumbuhan. Setiap daerah diharapkan mengusahakan swasembada pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menekan pesatnya pertumbuhan penduduk :
1. Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran.
2. Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi.


penduduk dan kesempatan kerja.
Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan penyebaran penduduk yang kurang seimbang merupakan faktor yang amat mempengaruhi manfaat hasil pembangunan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.
Pertumbuhan penduduk yang tinggi berarti diperlukannya usaha yang semakin besar untuk mempertahankan suatu tingkat kesejahteraan rakyat tertentu di dalam memenuhi kebu¬tuhan pokok seperti makanan, perumahan, pakaian, pekerjaan, dan kesehatan. Usaha yang lebih besar lagi dibutuhkan bila¬mana tingkat kesejahteraan ini ingin ditingkatkan.
Penyebaran penduduk yang kurang seimbang di antara pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya telah menghambat pemanfaatan secara optimal sumber alam maupun sumber manusia Indonesia. Selanjutnya ketidakseimbangan di dalam penyebaran pen¬duduk Indonesia di antara daerah kota dan pedesaan juga telah menimbulkan berbagai masalah yang berhubungan dengan urbanisasi.
Tingginya angka kelahiran dan adanya ketidakseimbangan penyebaran merupakan masalah jangka panjang. Namun da¬lam Repelita II usaha-usaha ditingkatkan untuk menanggu¬langi akibat dari tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan ketidakseimbangan di dalam penyebaran penduduk.
Tetapi terdapat satu hal periting lainnya sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, yaitu mendesaknya kebutuhan akan penciptaan lapangan kerja yang meluas. Pertum¬buhan penduduk yang tinggi yang diakibatkan terutama oleh tingginya angka kelahiran berarti kebutuhan  akan penciptaan kesempatan kerja lebih besar terutama bagi tenaga kerja umur muda, baik di kota maupun di desa.
Adapun arah kebijaksanaan yang ditempuh dalam Repe¬lita II adalah mempengaruhi struktur penduduk, khususnya tingkat kelahiran dan penyebaran penduduk dan di lain pihak memperbesar daya serap tenaga kerja dari kegiatan pemba¬ngunan.

Kekurangseimbangan di dalam permintaan dan penawaran tenaga terdidik.
Salah satu aspek masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja ialah terdapatnya ketidakseimbangan di antara jenis tenaga terdidik yang tersedia dengan jenis tenaga terdidik yang di¬butuhkan di dalam pembangunan. Terdapat andikasi mengenai kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga terdidik tertentu khususnya di kalangan lulusan sekolah lanjutan atas. Tetapi pada lain pihak terdapat pula indikasi mengenai kekurangan tenaga terdidik pada banyak bidang.

Kekurangseimbangan permintaan dan penawaran tenaga kerja antardaerah.
Kekurangan kesempatan kerja secara umum, kekurangseim¬bangan di dalam struktur permintaan dan penawaran tenaga kerja terdidik dan adanya syarat-syarat kerja dan kesejahtera¬an buruh yang kurang wajar tidak sama intensitasnya di antara daerah-daerah di Indonesia dan di antara daerah kota dan desa. Kekurangan kesempatan kerja secara umum amat terasa di pulau Jawa. Rendahnya luas tanah pertanian per orang di Jawa dibanding dengan daerah lain merupakan salah satu sebab kekurangan kesempatan kerja secara umum yang lebih besar ini. Relatif rendahnya tingkat upah tenaga tidak terdidik secara umum di Jawa (kecuali di Jakarta) dibanding dengan daerah-daerah lain di Indonesia adalah manifestasi dari pada tingkat kekurangan kesempatan kerja yang lebih besar di Jawa dibanding dengan daerah-daerah lain. Di antara daerah-daerah di luar Jawa juga terdapat perbedaan intensitas kekurangan kesempatan kerja.
Di daerah pedesaan kekurangan tenaga terdidik untuk pem¬bangunan lebih besar dari pada di daerah kota. Di daerah kota, sebaliknya gejala kekurangan kesempatan kerja bagi tenaga terdidik kelihatannya lebih menonjol.
Dapatlah kiranya disimpulkan bahwa masalah utama di bidang kesempatan kerja memperlihatkan variasi yang berbeda-beda di antara daerah di Indonesia maupun di antar kota dan desa. Dengan demikian kebijaksaan yang ditempuh akan mempunyai variasi.

Pengangguran.
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.

Jenis dan macam pengangguran:
1. Berdasarkan jam kerja
-Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment) 
adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
-Setengah Menganggur (Under Unemployment) 
adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
-Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)
adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
2. Berdasarkan penyebab terjadinya
-Pengangguran friksional (frictional unemployment)
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerja tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
-Pengangguran konjungtural (cycle unemployment)
Pengangguran konjungtoral adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
-Pengangguran struktural (structural unemployment)
Pengangguran struktural adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktural bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti: Akibat permintaan berkurang, Akibat kemajuan dan pengguanaan teknologi, Akibat kebijakan pemerintah.
-Pengangguran musiman (seasonal Unemployment)
Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim tanam, pedagang durian yang menanti musim durian.
-Pengangguran siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.
-Pengangguran teknologi
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin.
-Pengangguran siklus
Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian karena terjadi resesi. Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerate demand).

Penyebab pengangguran.
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya.
Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.

Akibat pengangguran.
-Bagi perekonomian Negara:
1. Penurunan pendapatan perkapita.
2. Penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak.
3. Meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.
-Bagi masyarakat
1. Pengangguran merupakan beban psikologis dan psikis.
2. Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan, karena tidak digunakan apabila tidak bekerja.
3. Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik.

Kebijakan-kebijakan pengangguran.
Adanya bermacam-macam pengangguran membutuh-kan cara-cara mengatasinya yang disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi, yaitu sebagai berikut.
1. Cara Mengatasi Pengangguran Struktural
-Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
-Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang kelebihan ke tempat dan sektor ekonomi yang kekurangan.
-Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan) kerja yang kosong, dan
-Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.
2. Cara Mengatasi Pengangguran Friksional
-Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.
-Deregulasi dan debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.
-Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industry.
-Menggalakkan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sektor agraris dan sektor formal lainnya.
-Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta.
3. Cara Mengatasi Pengangguran Musiman
-Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sektor lain, dan
-Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
4. Cara Mengatasi Pengangguran Siklis
-Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, dan
-Meningkatkan daya beli masyarakat.

Masalah ketenagakerjaan pengangguran dan kemiskinan.
Sebuah negara tidak akan pernah bisa lepas dari berbagai permasalahan yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara - negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi seperti Indonesia. Masalah ketenagakerjaan, pengangguran, dan kemiskinan Indonesia sudah menjadi masalah pokok bangsa ini dan membutuhkan penanganan segera supaya tidak semakin membelit dan menghalangi langkah Indonesia untuk menjadi mengara yang lebih maju. Indonesia sebenarnya sempat menjadi tempat favorit bagi para pengusaha dari luar negeri untuk membangun usaha mereka disini. Ya, dengan alasan murahnya biaya tenaga kerja merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia diincar oleh para pengusaha asing. Namun, ternyata hal tersebut tidak diimbangi dengan dukungan positif dari pemerintah tentang pengaturan Undang - Undang investasi dan ketenagakerjaan sehingga malah memunculkan banyak masalah baru sehingga mengakibatkan dampak terparah berupa relokasi tempat usaha ke negara lain. Banyak yang harus dibenahi untuk menyelesaikan masalah ketenagakerjaan. Diantaranya adalah dengan membekali berbagai macam ketrampilan bagi para tenaga kerja usia produktif supaya lebih mampu bersaing di dunia kerja tidak hanya dalam bursa tenaga kerja lokal namun juga bursa tenaga kerja dunia.
Dampak terbesar dari terjadinya relokasi tempat usaha adalah meningkatnya angka pengangguran di Indonesia. Jumlah pengangguran di Indonesia telah mencapai titik dimana memerlukan penanganan dari pemerintah dengan sangat serius. Ternyata langkah pemerintah untuk membuka banyak lapangan kerja baru tidak banyak membantu mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia. Langkah yang dianggap paling tepat adalah dengan membekali ketrampilan kepada para tenaga kerja produktif yang masih belum medapatkan pekerjaan dengan harapan mereka bisa membuka lapangan kerja baru, tidak hanya untuk diri mereka sendiri namun juga untuk masyarakat di sekitar mereka. Oleh karena itu, dukungan penuh dari pemerintah terhadap para wiraswasta sangat diharapkan supaya angka pengangguran bisa jauh berkurang.
  Masalah yang tidak kalah pentingnya adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan dianggap sebagai akar dari segala permasalahan sosial kependudukan yang memiliki efek luar biasa bagi Indonesia. Harus diakui bahwa hingga saat ini jumlah penduduk miskin di Indonesia masih sangat tinggi. Upaya pemerintah untuk menurunkan jumlah penduduk miskin adalah dengan memberikan fasilitas rusunawa yang pada kenyataannya banyak salah sasaran, memberikan BLT (bantuan langsung tunai) yang ternyata tidak banyak membantu masyarakat, hingga pemberian aneka subsidi untuk masyarakat miskin. Berbagai langkah tersebut pada kenyataannya tidak bisa membuat jumlah penduduk miskin di Indonesia menjadi berkurang. Karena solusi idealnya adalah dengan memberikan mereka pekerjaan tetap dengan gaji yang memadai sehingga mereka bisa hidup lebih layak. Ini bukan perkara yang mudah bagi pemerintah. 

Kemiskinan.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.

Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
1. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipsdfgeggahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
2. Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
3. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
1. penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
2. penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
3. penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
4. penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
5. penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.

Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:
1. Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
2. Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
3. Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.



Jadi dapat disimpulkan bahwa, pertumbuhan penduduk berpengaruh terhadap lapangan pekerjaan dan kemiskinan. Dimana pertumbuhan penduduk atau jumlah penduduk tidak sesuai dengan jumlah lapangan pekerjaan yang ada. Penduduk yang tidak mempunyai pendidikan yang cukup susah mencari pekerjaan, dengan demikian mengakibatkan banyaknya pengangguran. Pengangguran karna tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup ini mengakibatkan kemiskinan. Oleh karena itu, di setiap daerah perlu adanya suatu keseriusan dari pemerintah untuk menangani permasalahan pengangguran dan kemiskinan ini.  Bukan malah menjadi permasalahan yang di kesampingkan/menjadi sisa dari suatu program yang artinya menyepelekan masalah ini. Selain itu juga pemerintah perlu mengoptimumkan sumberdaya yang ada sekaligus mencari sumber-sumber ekonomi lainnya yang potensial. Termasuk bagaimana sektor usaha kecil dan menengah, seperti pertanian dan industri haruslah menjadi prioritas utama pembangunan jangka panjang.  Selain itu,  jangan juga mengatasi pengangguran dan kemiskinan ini sebagai masalah yang kalau ada masalah barulah di atasi. Hal inilah yang kurang lebihnya menyebabkan angka pengangguran dan kemiskanan terus meningkat.Hal ini juga berdampak pada tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, akibat dari masyarakat yang menyepelekan permasalahan pendidikan karena tidak adanya kemampuan keuangan untuk menempuh nya. Mereka hanya berfikir hal-hal yang berkaitan untuk hari ini saja, bukan berfikir bagaimana keadaan yang lebih baik bisa di raih untuk kehidupan di masa depannya.  Karena itu, masyarakat pun harus lebih peka terhadap permasalahan ini. Setidaknya ikut mendukung dan hisa lebih baik jika pemerintah membuat suatu program demi memperbaiki kualitas suatu bangsa, untuk mewujudkan suatu perubahan dalam menangani kasus kurangnya lapangan pekerjaan yang mengakibatkan banyaknya pengangguran dan kemiskinan ini.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar